Bergabungnya Indonesia di BRICS memberikan peluang bagi Indonesia untuk memperluas akses pasar. Akses pasar bisa didapat lebih mudah ke negara-negara BRICS apabila Indonesia bisa mempercepat perjanjian perdagangan antar anggotanya. Potensi pasar BRICS besar. Hingga Januari 2025, BRICS+ yang terdiri dari 10 anggota dan 9 partner menyumbang 54,6 persen populasi dunia dan 42,2 persen PDB (purchasing power parity).

Bagi Indonesia, keanggotaan BRICS bisa memberikan dampak positif. Dampak positif ini bisa teramplifikasi dengan ekspansi produk-produk industri manufaktur domestik. Hal ini penting agar persentase sektor industri manufaktur domestik bisa melebihi angka 20 persen PDB.
Indonesia harus memastikan bahwa masuk ke BRICS harus bisa menjadi katalisator industrialisasi domestik agar porsi industri terhadap PDB bisa mencapai 30 persen. Angka ini penting sebagai salah satu ikhtiar Indonesia keluar dari jebakan kelas menengah. Selain itu juga sebagai salah satu jalan menuju pertumbuhan ekonomi 8 persen.
Meskipun demikian ada tiga hal utama yang perlu diperhatikan Indonesia selepas bergabung dengan BRICS. Perhatian ini perlu ditekankan agar Indonesia tidak boncos dalam keanggotaan BRICS. Pertama adalah penurunan indeks kepercayaan konsumen dalam negeri Tiongkok, kedua overkapasitas di Negari Panda tersebut dan ketiga adalah kebijakan ekonomi Trump.
Tantangan
Ekonomi domestik Tirai Bambu ini sedang kalut. Penurunan consumer confidence index dan kelebihan kapasitas produksi (over supply) diantara sebabnya. Data Indeks Kepercayaan Konsumen di Tiongkok turun drastis pasca Maret 2022. Per Maret 2022 angkanya sebesar 113,2 dan memasuki April 2024 terjun bebas ke 86,7. Salah satu sebabnya adalah lockdown di Shanghai akibat covid-19.
Memasuki 2024, angka indeks kepercayaan konsumen Tiongkok meningkat, meski belum lebih baik dari sebelum April 2022. Pada akhir 2024, indeks ini mengalami pemuliha semisal pada Oktober 2024 sebesar 86,9, naik 1,2 dari bulan sebelumnya sebesar 85.7. Namun memasuki November 2024, angkanya turun menjadi 86,2.
Penurunan ini diperkirakan akan terus berlanjut yang disebabkan oleh kemenangan Trump dalam pemilu Amerika Serikat November 2024 kemarin. Kemenangan Trump menjadi petaka bagi Tiongkok akibat kebijakan perang dagang yang akan kembali digaungkan Trump. Perang dagang berakibat jualan produk ke Amerika Serikat tidak kompetitif lagi karena harga lebih mahal daripada tanpa tambahan tarif.
Tantangan kedua adalah over supply Tiongkok yang menjadi konsen global karena memunculkan risiko. Hal ini setidaknya pernah disampaikan Janet Yellen pada Maret 2024. Dukungan pemerintah Tiongkok di sektor-sektor seperti baja dan aluminium di masa lalu telah menyebabkan kelebihan investasi yang substansial dan kapasitas yang ada sehingga perusahaan Tiongkok mau tidak mau mencari jalan ekspor ke luar negeri. Ujungnya, over suplai yang terjadi di Negeri Tirai Bambu ini memaksa industri di seluruh dunia untuk berkontraksi.
Indonesia dipandang sebagai pasar yang besar dengan jumlah penduduk 300 juta jiwa. Keanggotaan di BRICS secara psikologis bisa membawa Tiongkok pada pandangan bahwa ekspor ke Indonesia lebih mudah. Bagaimanapun juga, Tiongkok memiliki kepentingan untuk cuci gudang produk-produk mereka.
Cuci gudang ekonomi Tiongkok bisa memperparah defisit neraca dagang Indonesia-Tiongkok. Pada 2018, angka defisit neraca perdagangan mencapai 16,7 juta USD. Per November 2024 , angka defisit neraca perdagangan dengan Tiongkok sebesar 8,7 juta USD. Angka ini berpotensi melebar di 2025 dimana Indonesia sudah menjadi bagian BRICS dan ada kecenderungan Negeri Wong Fei Hung untuk cuci gudang produk-produk over suplai mereka.
Konsen ketiga yang perlu dipertimbangkan Indonesia dalam keanggotaan BRICS adalah kemenangan Trump di pilpres Amerika Serikat. Fakta ini berpotensi menghambat ekspor Indonesia ke Amerika Serikat. Potensi ini akan menjadi nyata apabila janji Trump mengenakkan tarif impor tinggi dari Negara-Negara BRICS menjadi nyata. Imbasnya, surplus dagang dengan negeri Paman Sam bisa tergerus. Di sisi lain, Indonesia harus bersiap menghadapi cuci gudang dari Tiongkok.
Pada 2018, surplus neraca perdagangan Indonesia – Negeri Paman Sam tercatat.8,3 juta USD. Hingga November 2024 angkanya meningkat hampir tiga kali lipatnya yakni 20 juta USD. Diperkirakan hingga Desember 2024, angkanya akan lebih besar. Meski mengalami tren peningkatan, ancaman impor tarif dari Amerika Serikat berpotensi menggerus surplus perdagangan tersebut.
Efek
Berikut beberapa efek domino dari narasi di atas antara lain persaingan produk lokal dengan barang impor murah dari Tiongkok, pelemahan industri domestik dan defisit neraca perdagangan. Membanjirnya produk impor dari Tiongkok akan memukul industri domestik karena kalah bersaing dengan produk-produk cuci gudang Tiongkok serta dapat memperlebar defisit neraca perdagangan Indonesia dengan negara ini.
Indonesia harus memitigasi dan merespons dalam kerangka melindungi perekonomian nasional dan meningkatkan daya saing di tingkat global. Penguatan industri lokal serta peningkatan daya saing produk adalah hal pertama yang perlu dipastikan agar upaya-upaya berikutnya bisa saling berkesinambungan. Tanpa topangan produk yang berkualitas dan berdaya saing, jualan di negeri orang adalah pepesan kosong.
Mendiversifikasikan pasar ekspor adalah wajib. Kawasan Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin adalah merupakan pasar yang bisa digarap serius. Keanggotaan BRICS memungkinkan penetrasi ke pasar non tradisional bisa lebih mudah. Namun, mengandalkan usaha pemasaran saja tidak cukup. Indonesia perlu mengintensifkan diplomasi ekonomi semisal perundingan bilateral dengan AS untuk antisipasi tarif impor Amerika Serikat. Kemudian ngopi bareng dengan Tiongkok, negara-negara Afrika, Timteng dan Amerika Latin untuk membicarakan perdagangan yang saling menguntungkan.
Artikel dimuat di Suara Merdeka, 7 February 2025


Leave a comment