Featured

Pergantian Domain Blog

This is the post excerpt.

Blog terdahulu saya rabdulah.wordpress.com diganti dengan rabdulah.net. Alasannya adalah (1) pergantian domain berbayar tersebut bisa menjadikan lebih leluasa dalam mengutak-atik web, (2) storage yang lebih besar, (3)fitur fitur yang lebih menarik dan sebagai pendorong agar lebih menyeriusi dunia blogger dengan konten ekonomi.

Konten yang akan ditampilkan dalam blog baru ini tidak jauh berbeda dengan blog saya sebelumnya, perihal ekonomi terutama. Selain itu juga akan ditambahkan fitur fotografi untuk memposting koleksi foto-foto saya serta catatan-catatan tentang perjalanan dan humanisme.

Berubah, sekarang……!!!

 

Catatan Terhadap HET Beras

 

Ilustrasi Opini - Catatan Terhadap HET Beras

Penulis mengapresiasi Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang mengeluarkan beleid harga eceran tertinggi (HET) beras yang berbeda-beda di setiap wilayah dan jenis beras. Ini keputusan rasional, mengingat pembentukan harga beras di setiap wilayah memang berbeda-beda. Banyak faktor yang memengaruhi pembentukan harga beras.  Misal biaya transportasi dari sawah hingga ke konsumen.

Continue reading “Catatan Terhadap HET Beras”

Tantangan Perbankan Syariah

Perkembangan perbankan Syariah pasca dikeluarkannya fatwa tentang riba, tidak semulus yang dibayangkan. Pasca adanya fatwa, banyak pihak yang berpendapat bahwa hal ini merupakan angin segar bagi perbankan Syariah berupa semakin meningkatnya nasabah yang berdampak pada kinerja perbankan Syariah. Namun, anggapan tersebut tidak 100% benar. Faktanya, hingga saat ini perbankan Syariah di Indonesia menghadapi tantangan berat yang harus segera dicarikan solusinya.

Continue reading “Tantangan Perbankan Syariah”

Pertumbuhan Autopilot 5%

Ekonomi Indonesia bisa tumbuh pada kisaran 5% pada tahun ini dengan kondisi autopilot. Kondisi tersebut adalah belanja pemerintah berjalan, minimal tidak berkurang, serta konsumsi rumah tangga yang terjaga. Kondisi tersebut didukung oleh ekspor dan investasi yang tidak tumbuh signifikan. Apabila menghendaki pertumbuhan di angka 6%, maka hal yang perlu di dorong adalah ekspor dan investasi.

Continue reading “Pertumbuhan Autopilot 5%”

Lebaranomics

Salah satu momen pendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia adalah momen hari raya, salah satunya Hari Raya Idul Fitri. Hal ini karena pada momen hari raya, konsumsi masyarakat kita meningkat drastis, terutama masyarakat Muslim. Makanan, sandang, dan jasa (transportasi dan pembayaran) adalah komoditas dan sektor paling banyak disasar. Namun, ada satu hal yang menjadi penghambat momen pemantik pertumbuhan tersebut yakni suplai barang dan logistik.

Continue reading “Lebaranomics”

Di Balik Stabilitas Harga

Momen puasa dan Lebaran tahun ini menjadi nafas segar bagi pemerintah, terutama Kementerian Perdagangan yang tidak kelimpungan dalam menjaga harga kebutuhan pangan. Namun demikian, di balik “keberhasilan” itu, terdapat sebuah lampu kuning yang perlu diperhatikan secara betul, yakni penurunan daya beli masyarakat.
Stabilitas harga memang dibutuhkan selama momen puasa dan hari raya. Pada momen inilah permintaan sedang dalam kondisi yang tinggi. Penulis melakukan pengamatan pergerakan harga seminggu sebelum puasa dan seminggu sebelum Lebaran di tahun 2016 dan 2017. Pilihan seminggu sebelum Lebaran disebabkan ketersediaan data yang ada.

Continue reading “Di Balik Stabilitas Harga”

Tantangan Kabinet OJK

Majalah the Economist edisi 8 April 2017 mengangkat sebuah ulasan berjudul The History of Growth should be all about recessions : Faster growth is not due to bigger booms, but to less shrinking. Tulisan tersebut memaparkan pandangan baru mengenai pertumbuhan ekonomi yang cepat seperti dialami oleh negara-negara Eropa antara 1800 hingga 1950. Pada 1800-an, GDP per kapita hanya sebesar 3.600 USD per orang lalu meningkat menjadi 10.000 USD pada 1950. Sebelum 1800, PDB per kapita stagnan pada level 725 – 1.100 USD per kapita.

Sebelumnya para ekonom berpandangan bahwa pertumbuhan ekonomi yang cepat tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain kuantitas dan produktivitas dari tenaga kerja dan modal. Namun, pandangan baru yang dikemukakan oleh Stepehen Broadberry dari Oxford University dan John Wallis dari Universitas Maryland menyatakan : “faster growth is not due to bigger booms, but to less shrinking in recessions” (pertumbuhan ekonomi yang cepat bukan disebabkan oleh periode pertumbuhan yang tinggi, tapi lebih dikarenakan perekonomian tersebut lebih tahan atau lebih kecil terkena dampak krisis).

Continue reading “Tantangan Kabinet OJK”

Jalan Terjal Menuju Single Digit

Mengapa Suku Bunga Perbankan di Indonesia Tinggi ?

Suku bunga rendah sangat dibutuhkan dalam perekonomian Indonesia. Salah satu alasannya adalah untuk memacu penyaluran kredit. Ketika kredit bertumbuh pesat, maka output dalam perekonomian bertambah yang berujung dalam pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Sudah lama bunga rendah hanya menjadi bunga mimpi bagi para pelaku ekonomi yang berkepentingan, baik langsung dan tidak langsung, terhadap suku bunga tersebut.

Beragam ikhtiar penurunan suku bunga telah dilakukan. Pengendalian inflasi yang dilakukan oleh otorritas moneter terlihat membuahkan hasil. Inflasi beberapa tahun terakhir terkendali. Pun dengan pemerintah sebagai otoritas fiskal. Pemberian subsidi bunga melalui program KUR semakin intensi dilaksanakan. Hasilnya, suku bunga single digit khusus KUR tercapai.

Continue reading “Jalan Terjal Menuju Single Digit”