Rusli Abdullah's Blog

-thinking-reading-writing-sketching-traveling-


Hidden Gems Beasiswa

Berbicara beasiswa, ada dua hidden gems yang jarang diekspose atau dibahas dalam seminar-seminar beasiswa. Padahal dua hal ini menurut saya adalah salah satu faktor penentu untuk melanjutkan studi baik S2 atau S3 menggunakan skema beasiswa, di luar syarat-syarat mendasar lain untuk daftar beasiswa. Kedua “hidden gems” tersebut adalah adalah status sandwich generation dan kewajiban finansial.

Sandwich Generation

Kenapa sandwich generation menjadi penghalang ? Teman-teman yang posisinya sebagai generasi ini pasti tahu betul konstrain ini. Tidak sedikit mahasiswa Sarjana yang mengubur mimpi S2 dalam-dalam karena statusnya ini. Beban moral untuk segera mencari pekerjaan agar bisa membantu keluarga, biasanya membantu adik-adiknya bersekolah, adalah beban yang selalu terngiang  setelah dosen pembimbing dan dosen pengujinya menandatangani skripsinya.  Namun demikian, saya memiliki pandangan bahwa generasi ini memiliki jalan takdir spesial dalam berbakti kepada orang tuanya.

Di tengah kondisi seperti di atas, ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar status sebagai generasi sandwis tidak menghalangi mimpi untuk lanjut sekolah.

Pertama, komunikasi dengan orang tua.

Apa ekspektasi yang diharapkan dari status sandwich generation dalam membantu keluarga? Beberapa orang yang saya kenal biasanya mereka ingin membantu adik-adik menyelesaikan sekolah dan atau kuliah. Mereka percaya, pendidikan adalah salah satu senjata terbaik dalam mengangkat harkat dan martabat manusia. 

Kedua, menyusun rencana kehidupan dan rencana keuangan.

Setelah mengetahui ekspektasi yang diharapkan sebagai generasi sandwich, maka pastikan menyusun rencana pasca kuliah sarjana dan juga rencana keuangan. Semakin awal mengidentifikasi ekspektasi (awal-awal kuliah sarjana) makan lebih baik.

Ketiga, riset jenis jenis beasiswa dan tujuan negara.

Riset terkait dua hal ini penting untuk memastikan berapa tabungan atau uang yang bisa digunakan ntuk membantu keluarga.  Setidaknya ada dua komponen yang perlu diperhatikan : besaran beasiswa, biaya hidup dan upah per jam pekerjaan part time di negara tujuan.

Sebagai contoh Jepang (Kota Nagoya).

Beasiswa MEXT (Research Student/S2)
144 ribu yen
Biaya Hidup30 ribu yen
Apato/Apartemen 10 ribu yen (rata-rata per bulan dalam satu tahun ; musim dingin + musim panas)
Makan50 ribu yen
Internet4 ribu yen
Healing 10 ribu yen
Total pengeluaran104 ribu yen


Mahasiswa MEXT Scholarship bisa mengambil part time job (arubaito/baito) maksimal 28 jam per minggu. Jika bisa ambil pekerjaan paruh waktu 15 jam per minggu (3 jam sehari), maka bisa diperoleh minimal 15 ribu yen per minggu. Sebagai informasi, upah minimal di Kota Nagoya saat ini berkisar 1.000 yen per jam. Dalam satu bulan bisa mendapatkan 60 ribu yen. Jika ditotal dengan sisa beasiswa (40 ribu yen) maka didapat 100 ribu yen. Dengan kurs Rp 100  = 1 Yen, maka bisa diperoleh tabungan 10 juta per bulan.

Sambil menyelam minum air, menurut saya angka tersebut di atas sangat bisa membantu sandwich generation untuk tetap berkontribusi kepada keluarga tanpa harus mengubur mimpi sekolah di luar negeri dalam-dalam.

Hidden gems kedua adalah kewajiban finansial.

Kewajiban finansial bisa berupa cicilan rumah atau semisalnya. Konstrain ini biasanya menjadi pertimbangan banyak orang yang hendak lanjut ke jenjang S3. Ada beberapa teman yang saya kenal, mengalihkan tujuan sekolahnya ke dalam negeri. Bagi teman-teman yang berkarir di dunia yang mensyaratkan S3 sebagai salah satu syarat jenjang karirnya, konstrain ini menjadi hal yang perli diperhatikan dengan seksama.

Salah satu opsi bijak yang bisa diambil agar konstrain kewajiban finansial tidak menjadi beban menghalangi rencana studi doktoral adalah dengan tidak mengambil pilihan yang memiliki konsekuensi kewajiban finansial. Jika belum punya rumah, ngontrak dulu. Cari kontrakan dekat tempat bekerja semisal dekat kampus.

Selain perencanaan yang baik, jangan dilupakan doa baik doa diri sendiri dan doa orang tua.

Bagaimanapun juga, doa adalah senjata yang dimiliki oleh setiap muslim, baik dia kaya atapun tidak.



Leave a comment

About Me

Lahir di Kebumen, Jawa Tengah pada 16 Januari 1985. Menyelesaikan pendidikan S 1 nya di Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, FEB UNDIP Semarang (2008) dan Magister Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan di Universitas yang sama (2011-2013). Merintis karir sebagai peneliti diawali menjadi Asisten Peneliti di Laboratorium Studi Kebijakan Ekonomi (LSKE) FEB UNDIP pada 2006. Setelah lulus Sarjana pernah menjadi wartawan ekonomi Suara Merdeka dan bergabung dengan Institute for Economics Research and Social Studies (interess) Semarang 2009-2014, dan Pusat Kajian Pembangunan, LPPM Universitas Diponegoro tahun 2011-2013. Sejak April 2014-sekarang bergabung dengan INDEF. Email : rusli.abdulah@indef.or.id, Twitter : @rabdulah

Newsletter