Oktober 2024 besok akan dimulai semester baru ( fall semester 2024/2025) di kampus-kampus Jepang. Bagi teman-teman yang akan datang ke Jepang dan memulai perkuliahan baik sebagai research student ataupun bukan, secara default akan tinggal di asrama mahasiswa selama minimal 6 bulan. Berdasarkan pengalaman penulis, ada beberapa alasan mengapa mahasiswa asing perlu “diisolasi” di asrama.
1. Adaptasi
Adaptasi diperlukan untuk menghindari culture shock, terutama bahasa. Di dalam asrama, semua mahasiswa dan juga adminnya mampu berbahasa Inggris. Jadi pertama kali mahasiswa datang ke Jepang, mereka masih bisa menemui komunitas yang menggunakan bahasa Inggris.
2. Registrasi kependudukan
Setiap pendatang di Jepang wajib meregistrasikan dirinya ke kantor kelurahan/balai kota setempat. Dalam melakukan registrasi pertama kali, akan dibantuk staf admin di kantor asrama. Bisa dibayangkan jika seorang mahasiswa yang baru datang di Jepang diminta langsung ke kantor balai kota untuk registrasi, yang ada puyeng liatin huruf kanji.
Beberapa hari setelah sampai di Jepang, maka biasanya akan ada tutor dari kampus yang akan membantu mahasiswa baru selama satu semester awal. Di kampus saya, GSID Nagoya University, tutor ini mendampingi mahasiswa baru untuk adaptasi kehidupan di kampus dan luar kampus. Sebagai contoh membantu mahasiswab baru untuk urusan administrasi kampus semisal pengenalan sistem IT kampus.
Contoh lainnya adalah menuntun mahasiswa baru untuk melakukan registasi-registasi kependudukan di balai kota. Registrasi kependudukan ini semisal pengajuan excemption pension (mahasiswa tidak dibebankan untuk ikut iuran pensiun), excemption pajak, dan mengurus perpindahan alamat dari asrama ke apartemen (setelah masa tinggal di asrama habis).
Selain minta bantuan tutor, tidak jarang mahasiswa baru meminta bantuan senpai dari sesama orang Indonesia yang sudah lama di Jepang dan jago Nihon go (bahasa Jepang) dalam urusan administrasi kependudukan di Jepang.
3. Menabung untuk pindah ke Apato baru
Masuk ke apartemen (apato) baru memerlukan biaya awal yang besar atau uang pangkal. Biasanya maksimal 3 kali dari harga sewa bulanan. Tapi ada juga apato yang tidak memerlukan uang pangkal, tergantung kita memilihnya. Nah durasi 6 bulan adalah waktu bagi mahasiswa untuk saving menyiapkan uang pangkal masuk apato baru. Uang sewa asrama biasanya setengah atau 2/3 dari rata–rata sewa apato komersial.
4. Memilah sampah
Memilah sampah rumah tangga di Indonesia mungkin dianggap kerjaan yang tidak penting. Namun tidak di Jepang. Memilah sampah rumah tangga adalah wajib. Ada pengalaman saya ketika memilah sampah benar, sampah tersebut tidak diangkut truk sampah dan dibiarkan berada di tempat pengepulan sampah depan apato selama dua minggu. Bagi warga Jepang ini adalah aib. Sampah rumah tangga saya tidak diangkut yang bearti ada yang tidak beres dalam pemilahan sampah.

Tinggal 6 bulan di asrama mahasiwa adalah waktu untuk belajar dan disiplin memilah sampah dan mengumpulkannya di tempat pengepulan sampah di waktu dan tempat yang ditentukan.
Selamat datang di Jepang teman-teman mahasiswa baru dari Indonesia. Jangan lupa kontak teman-teman Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Universitas tujuan kalian!
#jepang #MEXTScholarship #LPDP #ADBScholarship


Leave a comment