Akhirnya hari yang dinanti tiba. Menggunakan maskapai JAL saya berangkat ke Nagoya Jepang. Sendirian. Perjalanan kali ini adalah yang pertama kali saya ke Negeri Sakura. Saya sudah membayangkan bagaimana riweh dan repotnya ketika perjalanan nanti. Mulai loading bagasi, pemeriksaan imigrasi hingga perjalanan ke Dormitory. Hal ini tentunya berbeda dengan perjalanan grup atau dinas negara dimana “bantuan” dari teman dekat tersedia sepanjang waktu. Meskipun demikian, Alhamdulillah bisa sampai Nagoya (International Residence Daiko) pada pukul 4.14 p.m JST, sesuai ekspektasi di awal, tiba sebelum magrib atau matahari terbenam agar malamnya bisa memiliki waktu istirahat lebih lama.
Perjalanan ke luar negeri kali ini bukan yang pertama kali. Sebelumnya pernah ke Malaysia, Bangkok, Norwegia dan Argentina. Berbekal pengalaman tersebut, membuat saya pede untuk melakukan perjalanan sendiri kali ini ke Jepang. Meski ada keterbatasan Bahasa Jepang (bagi saya) dan Bahasa Inggris (bagi orang Jepang).
Sebagai referensi saya menggunakan Pesawat JAL (Japan Airlines) Penerbangan Soekarno Hatta – Narita – Chubu Centraair Nagoya. Ada 3 alasan :
Pertama, LPDP (funding) tidak memperbolehkan transit lebih dari 12 Jam
Kedua, transit tidak lama (2,5 jam an). Tenggat waktu ini bagi saya di Narita pendek karena harus transit, nyari makan dan pindah terminal. Mencari makan siang halal (ada Mega Kebab di Lantai 4 – Food Court), agak lama karena harus jalan-jalan untuk nitip koper besar di Locker Coin. Nitip bagasi kena 300 Yen, tergantung besar kecilnya locker.
Ketiga, antisipasi tiba di tempat tujuan sebelum maghrib.
Rute penerbangan.
Cengkareng – Narita (Tokyo). : JL 726 (Departure 21.55, 22 Sept 2023)
Narita – Chubu Centraair Nagoya : JAL 3083 (Departure 10.25 JST, 23 Sept 2023)
Sampai di Chubu Centraair, jam 12.10 JST. Ambil bagasi, nyari makan siang, uji coba ambil uang di ATM Bank Jepang (alhamdulillah bisa). Asal ada logo visa/mastercard. Kena biaya tarik.
Perjalanan ke Dormitory menggunakan kereta. Pertama saya bingung kereta mana ? Teman-teman yang saya kontak di Jepang hanya memberitahukan pakai Subway Meijo Line (warna Ungu), kemudian turun Stasiun Nagoya Dome-mae Yada. Berbekal info ini saya langsung ke depan loket tiket untuk mencari rute. Tapi naas, saya cari-cari tidak ketemu koneksi Bandara Chubu ke Nagoya Dome-mae Yada.
Setelah sekitar 15 menit figuring out the map, saya menyerah dan langsung menuju ke pusat informasi bandara. Setelah tanya-tanya, ternyata dari Bandara Chubu ke Stasiun Nagoya Dome-mae Yada harus nyambung, tidak ada kereta langsung.

Map yang dikasih oleh petugas informasi bandara Chubu Centrair. Coretan stabilo menunjukkan rute yang harus diambil
Rutenya adalah :
Chubu Centraair – Stasiun Kanayama (Yen)
Stasiun Kanayama – Nagoya Dome-mae Yada (Yen)
Sepanjang Chubu Centraaor – Kanayama Stasiun berdiri dengan satu koper besar, 1 koper kecil, tas ransel dan tas selempang. Kereta tidak padat. Berdiri tapi tidak berdesak-desakan separah KRL jalur Manggarai-Bogor.
Sampai Kanayama Station langsung ganti kereta. Ada Family Mart dan beli air minum, penjaganya orang Nepal (TKI ala Indonesia sepertinya). Ini orang non Jepang pertama yang saya ajak ngobrol.
Dalam perjalanan Stasiun Kanayama – St Nagoya Dome-mae Yada, saya sempat turun di stasiun Nagoyajo (stasiun untuk ke Nagoya Castle/City Hall). Turun karena mendengar nama awalan Nagoya, mirip dengan awalan Stasiun Nagoya Dome-mae Yada. Turun, cek google map, salah stasiun. Tanya ke petugas (bapak-bapak, khas negara Aging Population), diarahkan untuk naik kereta ke stasiun tujuan.
Sampai stasiun tujuan, saya mikir, bagaimana dorong kopernya ya ? Berat. Jarak stasiun ke dormitory 450 meter (garis lurus) belum naik via escalator/tangga/lift. Alhamdulillahnya ada 2 orang Indonesia yang baru turun.
Saya tanpa ragu langsung nanya : “Mba nya orang Indonesia ?”
Alasannya : wajahnya Indonesia satu pakai kerudung satu tidak.
Senang rasanya mendengar jawaban mereka kompak “ Iya mas”, sahut mereka.
Lebih gembira lagi, mereka tinggal di dormitory yang sama. Mereka penerima beasiswa MEXT (Monbusho). Akhirnya ada yang bantuin dorong-dorong koper. Mba Bella (dari ngGresik) dan Dewi (dari Pasuruan) namanya.
Sepanjang perjalanan kami ngobrol sembari dorong-dorong koper. Saya kaget, mereka dijemput oleh Sensei mereka di Bandara. Amazing banget. Dari sini saya langsung kepikiran perbedaan skema beasiswa MEXT dan LPDP. (In syaa Alloh di postingan lain).
Sembari ngobrol-ngobrol sampai juga di dormitory. Langsung lapor ke Manager Office. Proses registrasi selesai, langsung menuju kamar dan istirahat. Bongkar koper. Hal ini mengingatkan saya pada 2003 silam ketika pertama kali merantau ke Semarang untuk kuliah di Fakultas Ekonomi UNDIP. Hal yang paling membedakan disini tidak terdengar kata-kata sebeh, semeh, lha iya ik, piye ndes, nggilani, piye jal dan lain sebagainya. Pastinya tidak ada lumpia atau bubur kacang ijo pak Dadang yang jadi senjata favorit sarapan murah ala mahasiswa.
Plang nama International Residence Daiko (atas) dan foto gedung (bawah)



Leave a comment