Plus Minus Indonesia Ikut TPP

Globalisasi adalah sebuah keniscayaan di tengah dunia yang semakin terkoneksi. Namun demikian, di tengah keniscayaan tersebut, perlu adanya penyikapan yang arif, bijak, penuh perhitungan serta manfaat dan mudhorotnya terhadap globalisasi serta kerjasama yang menyertainya. Point yang paling penting adalah memperhatikan kepentingan nasional yang ada.

Stiglitz, dalam bukunya, Globalization and Its Discontent (2001) menerangkan bahwa kesuksesan sebuah globalisasi tergantung pada pengelolaannya. Globalisasi akan membawa keuntungan bagi bangsa bangsa di dunia apabila dikelola dengan tetap memperhatikan karakteristik setiap negara. Stiglitz menyebutkan kegagalan globalisasi muncul ketika globalisasi dikelola oleh institusi internasional tanpa memerhatikan karakteristik negara-negara di dunia. Stiglitz mencontohkan contoh globalisasi di sektor keuangan yang dikelola oleh IMF.

Continue reading “Plus Minus Indonesia Ikut TPP”

Menanti Akhir “PHP” Madam Yellen

Ibarat orang yang sedang menjalin hubungan asmara, rupiah saat ini sedang dalam masa menanti kepastian dari The Fed. Penantian tersebut berupa jawaban kepastian atas suku bunga The Fed, pasti naik atau tidak. Kepastian, tersebut sangat diperlukan agar rupiah bisa  berstrategi. Jika naik, akan terukur dengan jelas dampak yang ditimbulkan dan otoritas moneter bisa menempuh langkah seoptimal mungkin menangani dampaknya.

Jika pun tidak, seberapa lama kah penundaan kenaikannya? Sehingga dengan kepastian yang ada, rupiah bisa menghela nafas lebih lama dan menyiapkan sederetan strategi yang bisa dilakukan untuk menghadapi dampaknya. Namun sangat minor berharap atas segala kepastian tersebut.

Continue reading “Menanti Akhir “PHP” Madam Yellen”

Apa Kabar Keuangan Inklusif ?

Teori pertumbuhan ekonomi menyebutkan bahwa modal menjadi salah satu variabel yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi. Selain modal, tenaga kerja, tingkat teknologi, entepreneurship juga menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, modal menjadi variabel yang sangat penting dalam memantik variabel-variabel di luar modal.

Semakin banyak dan berkualitas ketersediaan modal dalam sebuah perekonomian, cateris paribus, maka pertumbuhan ekonomi perekonomian tersebut akan terus bertumbuh. Dan sebaliknya. Ukuran ketersediaan modal bisa dilihat dari indikator saving-investment gap dan kedalaman pasar keuangannya. Kesenjangan tabungan-investasi Keduanya terkait erat dengan seberapa tinggi level inklusi keuangan yang ada.

Symptomp

Indonesia kekurangan modal dari dalam negeri. Kesenjangan tabungan-investasi yang bisa diketahui dengan melihat nilai current account yang bernilai negatif mengkonfirmasi hal ini. Sejak 2012 hingga sekarang nilai, current account Indonesia mengalami defisit. Pada 2012, nilai defisit transaksi berjalan Indonesia sebesar 24,41 miliar dollar Amerika atau 2,65 dari nilai produk domestik brutonya.

Continue reading “Apa Kabar Keuangan Inklusif ?”

Menyoal Rezim Suku Bunga Tinggi

Rezim suku bunga tinggi di Indonesia saat ini menggambarkan beberapa hal yakni menguntungkan bagi para bankir dan pemilik dana namun tidak bagi para debitur (pengusaha), terlebih pelaku usaha menengah ke bawah. Menguntungkan bagi bankir karena spread interest rate nya tinggi. Menguntungkan bagi pemilik dana karena suku bunga deposito/tabungan yang tinggi dan mencekik pelaku usaha karena suku bunga kredit tinggi.

Spread interest rate di Indonesia tergolong tinggi dibandingkan dengan negara kawasan ASEAN. Data tahun 2014 menunjukkan interest rate spread Indonesia mencapai 3,9 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Malaysia sebesar 1,5 persen; Vietnam 2,9 persen dan Tiongkok 2,9 persen. Jika dibandingkan dengan Singapura dan Thailand yang masing-masing sebesar 5,2 persen dan 4,8 persen, Indonesia masih tetap tertinggal jauh dikarenakan suku bunga kreditnya masih jauh lebih tinggi dari kedua negara tersebut.

Continue reading “Menyoal Rezim Suku Bunga Tinggi”

Asa Kredit di Tengah Perlambatan Ekonomi

Rilis Badan Pusat Statistik (BPS) tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia 2015 tidaklah mengejutkan. Berbagai prediksi sebelumnya menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak jauh berbeda dengan angka yang dirilis oleh BPS.

Badan Pusat Staistik merilis pertumbuhan ekonomi 2015 sebesar 4,79 persen. Angka tersebut merupakan angka terendah sejak tahun 2010. Namun demikian, pertumbuhan tersebut masih berada di atas pertumbuhan ekonomi Singapura (3,03 persen), Thailand (4,62 persen), Taiwan 3,84 persen, dan Amerika Serikat (3,09 persen).

Continue reading “Asa Kredit di Tengah Perlambatan Ekonomi”

Pergantian Domain Blog

This is the post excerpt.

Blog terdahulu saya rabdulah.wordpress.com diganti dengan rabdulah.net. Alasannya adalah (1) pergantian domain berbayar tersebut bisa menjadikan lebih leluasa dalam mengutak-atik web, (2) storage yang lebih besar, (3)fitur fitur yang lebih menarik dan sebagai pendorong agar lebih menyeriusi dunia blogger dengan konten ekonomi.

Konten yang akan ditampilkan dalam blog baru ini tidak jauh berbeda dengan blog saya sebelumnya, perihal ekonomi terutama. Selain itu juga akan ditambahkan fitur fotografi untuk memposting koleksi foto-foto saya serta catatan-catatan tentang perjalanan dan humanisme.

Berubah, sekarang……!!!