Saling silang lulusan sekolah dengan dunia kerja

Sekitar dua pekan lalu, Menteri Ketenagakerjaan Muhammad Hanif Dhakiri meminta kalangan pengusaha industri untuk menyerap teknisi lulusan Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK).

Hanif berargumen, meski memiliki ijazah setara SMA atau SMK, anak-anak yang melalui pelatihan di BBPLK ini memiliki bekal praktik industri lebih banyak ketimbang mereka yang lulusan SMA biasa, bahkan Diploma 3 (D3) dari perguruan tinggi.

“Mereka ini anak-anak yang luar biasa. Jadi tidak kalah jika dibandingkan dengan yang lulusan politeknik selama tiga tahun. Nanti silakan diuji karena mereka ini sudah mengikuti uji kompetensi,” tutur Hanif di Serang, Banten.

Permintaan Hanif bukan tanpa alasan. Anak-anak yang bermodalkan ijazah SMA dan sederajat memang lebih sulit mendapatkan akses pekerjaan (data tentang tingkat pengangguran terbuka bisa ditengok pada artikel “Yang tidak sekolah tak selalu menganggur“).

Sementara, tidak semua anak mampu melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi dengan beragam alasan.

Persoalan makin rumit bila serapan tenaga kerja umumnya lebih melirik mereka yang memiliki ijazah setingkat sarjana atau diploma untuk bekerja di perusahaannya. Tengok saja situs-situs penyedia lowongan pekerjaan, salah satunya Jobstreet.com.

Tim Lokadata Beritagar.id mencoba menengok tren kebutuhan penyedia lapangan pekerjaan diukur berdasarkan sektor industri beserta latar belakang pendidikan calon pelamar pada situs tersebut.

Hasilnya, mayoritas lowongan pekerjaan yang dipasang pada situs itu diperuntukkan pelamar dengan latar belakang pendidikan sarjana, pascasarjana, dan sekolah profesi seperti kedokteran dan farmasi dengan persentase mencapai 68,6 persen.

Sementara, jenjang pendidikan SMA sederajat dan diploma persentasenya masing-masing hanya mencapai 21,4 persen dan 10 persen.

Sebagai catatan, sejak berbentuk PT dan tersebar di beberapa kota di Indonesia, hingga 2015 JobStreet Indonesia telah memiliki 3,8 juta pengguna. Dominasinya oleh kalangan muda berusia 26-35 tahun, dengan jenjang pendidikan terbanyak adalah sarjana.

 

Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/saling-silang-lulusan-sekolah-dengan-dunia-kerja

When Inequality is Inevitable

Inequality is inevitable. However, its existence becomes a scourge for every country in the world if the imbalance that separates the rich and the poor as far west and eastern horizon. As a result, the nation can be ascertained unstable. A melee would be natural in an economy of extreme inequality No country on the earth can realize equal income between its citizen. Even the country with a socialist ideology (politically) such as China.

Continue reading “When Inequality is Inevitable”

Never Ending Face Problem of Indonesia’s Palm Oil

This is my English version of my article “Bagi Industri Sawit, Badai Belum Berlalu” that published in Watyutink Media Online.

After the winning of Indonesia’s lawsuit against EU policy in the imposition of Anti Dumping Import Duty on Indonesian biodiesel products in World Trade Organization (WTO), there are still obstacles to our palm oil.

The Anti Dumping Import Duty policy was applied by to Indonesia’s palm oil (biodiesel) about 8.8 percent-23.3 percent started from 2013. As a result, Indonesia’s exports of biodiesel to the EU decreased by 42, 84 percent, from 649 million dollars to 150 million dollars in 2016. The value of biodiesel exports fell the most in 2015, amounting?? to only 68 million US dollars.

Continue reading “Never Ending Face Problem of Indonesia’s Palm Oil”

Catatan Terhadap HET Beras

 

Ilustrasi Opini - Catatan Terhadap HET Beras

Penulis mengapresiasi Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang mengeluarkan beleid harga eceran tertinggi (HET) beras yang berbeda-beda di setiap wilayah dan jenis beras. Ini keputusan rasional, mengingat pembentukan harga beras di setiap wilayah memang berbeda-beda. Banyak faktor yang memengaruhi pembentukan harga beras.  Misal biaya transportasi dari sawah hingga ke konsumen.

Continue reading “Catatan Terhadap HET Beras”

Tantangan Perbankan Syariah

Perkembangan perbankan Syariah pasca dikeluarkannya fatwa tentang riba, tidak semulus yang dibayangkan. Pasca adanya fatwa, banyak pihak yang berpendapat bahwa hal ini merupakan angin segar bagi perbankan Syariah berupa semakin meningkatnya nasabah yang berdampak pada kinerja perbankan Syariah. Namun, anggapan tersebut tidak 100% benar. Faktanya, hingga saat ini perbankan Syariah di Indonesia menghadapi tantangan berat yang harus segera dicarikan solusinya.

Continue reading “Tantangan Perbankan Syariah”