Bulog Mau Bangun Gudang Kedelai, Ini Tantangannya

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rusli Abdullah menyatakan, rencana pembangunan gudang kedelai oleh Bulog cukup baik. Hanya saja Bulog perlu mengantisipasi sejumlah tantangan di sektor kedelai dan pergudangan yang terjadi.

Continue reading “Bulog Mau Bangun Gudang Kedelai, Ini Tantangannya”

Transfer Daerah dan Dana Desa Melambat di 2020

Dalam RAPBN 2020, belanja negara direncanakan akan mencapai Rp2.528,8 triliun atau naik sebesar 7,99 persen dari Outlook 2019. Meskipun demikian kualitas belanja negara cenderung memburuk dalam RAPBN 2020, seperti proporsi modal yang cenderung menurun. Belanja modal dalam RAPBN 2020 hanya 11,2 persen atau turun dibandingkan Outlook 2019 yang sebesar 11,4 persen.

Continue reading “Transfer Daerah dan Dana Desa Melambat di 2020”

Industri Makanan Didorong Serap Ayam Lokal dan Impor

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Dengan kondisi oversupply ayam di kancah domestik dan kebijakan mendesak membuka impor ayam dari Brasil, industri makanan dan minuman (mamin) didorong untuk menyerap ayam dari kedua sektor tersebut. Hal itu agar produksi ayam olahan seperti sosis dan nugget dapat meningkatkan kualitas produk.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rusli Abdullah menyampaikan, Indonesia sudah dalam posisi terdesak sehingga mau tidak mau keran impor ayam Brasil harus dibuka. Sehingga jika dibarengi dengan kondisi oversupply ayam dalam negeri, harusnya hal ini dapat dimanfaatkan oleh industri mamin.

Baca lebih lanjut di Republika

Saling silang lulusan sekolah dengan dunia kerja

Sekitar dua pekan lalu, Menteri Ketenagakerjaan Muhammad Hanif Dhakiri meminta kalangan pengusaha industri untuk menyerap teknisi lulusan Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK).

Hanif berargumen, meski memiliki ijazah setara SMA atau SMK, anak-anak yang melalui pelatihan di BBPLK ini memiliki bekal praktik industri lebih banyak ketimbang mereka yang lulusan SMA biasa, bahkan Diploma 3 (D3) dari perguruan tinggi.

“Mereka ini anak-anak yang luar biasa. Jadi tidak kalah jika dibandingkan dengan yang lulusan politeknik selama tiga tahun. Nanti silakan diuji karena mereka ini sudah mengikuti uji kompetensi,” tutur Hanif di Serang, Banten.

Permintaan Hanif bukan tanpa alasan. Anak-anak yang bermodalkan ijazah SMA dan sederajat memang lebih sulit mendapatkan akses pekerjaan (data tentang tingkat pengangguran terbuka bisa ditengok pada artikel “Yang tidak sekolah tak selalu menganggur“).

Sementara, tidak semua anak mampu melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi dengan beragam alasan.

Persoalan makin rumit bila serapan tenaga kerja umumnya lebih melirik mereka yang memiliki ijazah setingkat sarjana atau diploma untuk bekerja di perusahaannya. Tengok saja situs-situs penyedia lowongan pekerjaan, salah satunya Jobstreet.com.

Tim Lokadata Beritagar.id mencoba menengok tren kebutuhan penyedia lapangan pekerjaan diukur berdasarkan sektor industri beserta latar belakang pendidikan calon pelamar pada situs tersebut.

Hasilnya, mayoritas lowongan pekerjaan yang dipasang pada situs itu diperuntukkan pelamar dengan latar belakang pendidikan sarjana, pascasarjana, dan sekolah profesi seperti kedokteran dan farmasi dengan persentase mencapai 68,6 persen.

Sementara, jenjang pendidikan SMA sederajat dan diploma persentasenya masing-masing hanya mencapai 21,4 persen dan 10 persen.

Sebagai catatan, sejak berbentuk PT dan tersebar di beberapa kota di Indonesia, hingga 2015 JobStreet Indonesia telah memiliki 3,8 juta pengguna. Dominasinya oleh kalangan muda berusia 26-35 tahun, dengan jenjang pendidikan terbanyak adalah sarjana.

 

Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/saling-silang-lulusan-sekolah-dengan-dunia-kerja