Pertumbuhan Autopilot 5%

Ekonomi Indonesia bisa tumbuh pada kisaran 5% pada tahun ini dengan kondisi autopilot. Kondisi tersebut adalah belanja pemerintah berjalan, minimal tidak berkurang, serta konsumsi rumah tangga yang terjaga. Kondisi tersebut didukung oleh ekspor dan investasi yang tidak tumbuh signifikan. Apabila menghendaki pertumbuhan di angka 6%, maka hal yang perlu di dorong adalah ekspor dan investasi.

Continue reading “Pertumbuhan Autopilot 5%”

Tantangan Kabinet OJK

Majalah the Economist edisi 8 April 2017 mengangkat sebuah ulasan berjudul The History of Growth should be all about recessions : Faster growth is not due to bigger booms, but to less shrinking. Tulisan tersebut memaparkan pandangan baru mengenai pertumbuhan ekonomi yang cepat seperti dialami oleh negara-negara Eropa antara 1800 hingga 1950. Pada 1800-an, GDP per kapita hanya sebesar 3.600 USD per orang lalu meningkat menjadi 10.000 USD pada 1950. Sebelum 1800, PDB per kapita stagnan pada level 725 – 1.100 USD per kapita.

Sebelumnya para ekonom berpandangan bahwa pertumbuhan ekonomi yang cepat tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain kuantitas dan produktivitas dari tenaga kerja dan modal. Namun, pandangan baru yang dikemukakan oleh Stepehen Broadberry dari Oxford University dan John Wallis dari Universitas Maryland menyatakan : “faster growth is not due to bigger booms, but to less shrinking in recessions” (pertumbuhan ekonomi yang cepat bukan disebabkan oleh periode pertumbuhan yang tinggi, tapi lebih dikarenakan perekonomian tersebut lebih tahan atau lebih kecil terkena dampak krisis).

Continue reading “Tantangan Kabinet OJK”

Menyoal Rezim Suku Bunga Tinggi

Rezim suku bunga tinggi di Indonesia saat ini menggambarkan beberapa hal yakni menguntungkan bagi para bankir dan pemilik dana namun tidak bagi para debitur (pengusaha), terlebih pelaku usaha menengah ke bawah. Menguntungkan bagi bankir karena spread interest rate nya tinggi. Menguntungkan bagi pemilik dana karena suku bunga deposito/tabungan yang tinggi dan mencekik pelaku usaha karena suku bunga kredit tinggi.

Spread interest rate di Indonesia tergolong tinggi dibandingkan dengan negara kawasan ASEAN. Data tahun 2014 menunjukkan interest rate spread Indonesia mencapai 3,9 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Malaysia sebesar 1,5 persen; Vietnam 2,9 persen dan Tiongkok 2,9 persen. Jika dibandingkan dengan Singapura dan Thailand yang masing-masing sebesar 5,2 persen dan 4,8 persen, Indonesia masih tetap tertinggal jauh dikarenakan suku bunga kreditnya masih jauh lebih tinggi dari kedua negara tersebut.

Continue reading “Menyoal Rezim Suku Bunga Tinggi”

Asa Kredit di Tengah Perlambatan Ekonomi

Rilis Badan Pusat Statistik (BPS) tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia 2015 tidaklah mengejutkan. Berbagai prediksi sebelumnya menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak jauh berbeda dengan angka yang dirilis oleh BPS.

Badan Pusat Staistik merilis pertumbuhan ekonomi 2015 sebesar 4,79 persen. Angka tersebut merupakan angka terendah sejak tahun 2010. Namun demikian, pertumbuhan tersebut masih berada di atas pertumbuhan ekonomi Singapura (3,03 persen), Thailand (4,62 persen), Taiwan 3,84 persen, dan Amerika Serikat (3,09 persen).

Continue reading “Asa Kredit di Tengah Perlambatan Ekonomi”