Harga pangan dunia tertinggi sejak 2014, Indonesia perlu waspada

Harga pangan di pasar global secara perlahan tapi pasti terus menanjak naik akibat pertumbuhan permintaan tak diikuti kenaikan pasokan. Harga pangan saat ini, bahkan merupakan yang tertinggi sejak 2014. Sejumlah kalangan meminta pemerintah menyiapkan langkah khusus agar kenaikan harga itu tidak berdampak pada Indonesia.

Menurut Peneliti Center of Food, Energy, and Sustainable Development Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rusli Abdullah, pemerintah perlu memperhatikan secara khusus lonjakan harga pangan dunia ini. Kenaikan harga tersebut perlu segera diantisipasi dengan menjamin pasokan pangan dalam negeri.

“Pemerintah perlu mengamankan pasokan (pangan) dengan membuat perjanjian dengan negara pemasok untuk pangan yang kita masih impor. Misalnya dengan perjanjian satu tahun ke depan,” kata Rusli kepada Lokadata.id, Kamis (11/2/2021) sore.

Berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO), indeks harga pangan dunia per Januari 2021 mencapai 113,3 poin, naik 4,7 poin atau 4,3 persen dari posisi bulan sebelumnya sebesar 108,6. Menurut FAO kenaikan harga pangan ini telah terjadi selama delapan bulan berturut-turut.

Harga pangan sudah mencapai level tertinggi sejak Juli 2014 atau 6,5 tahun terakhir. “Kenaikan terbaru mencerminkan permintaan yang kuat pada gula, sereal, dan minyak nabati. Sementara, harga daging dan susu juga meningkat namun pada tingkat yang lebih rendah,” kata FAO dalam laporannya seperti dikutip, Kamis (11/2/2021).

FAO memerinci, harga gula dunia naik 8,1 persen secara bulanan (month-to-month/mtm), sereal 7,1 persen, dan minyak nabati 5,8 persen. Setelahnya, harga susu dan daging secara bulanan masing-masing meningkat 1,6 persen dan 1,0 persen.

Menurut FAO, kenaikan harga pada gula, misalnya, utamanya akibat kekhawatiran akan pasokan global pada 2020-2021 lantaran memburuknya panen di sejumlah negara seperti: Uni Eropa, Rusia, Thailand, dan Amerika Selatan. Pada saat bersamaan, kenaikan harga juga dipengaruhi oleh menguatnya permintaan di pasar global.

Sementara kenaikan pada sereal, kata FAO, diikuti oleh melonjaknya harga jagung di pasar internasional sebesar 11,2 persen (mtm). Sedangkan kenaikan harga minyak nabati akibat produksi komoditas ini di Indonesia dan Malaysia lebih rendah dari yang diperkirakan sebelumnya.

Kemudian, kenaikan tipis pada harga gula disebabkan meningkatnya permintaan dari Cina pasca perayaan libur Tahun Baru 2021. Selain itu, pasokan ekspor susu di Selandia Baru juga menurun. Harga daging yang naik sedikit juga akibat kenaikan demand dari Cina namun tergolong aman karena pasokan global masih mencukupi.

Menurut Rusli Abdullah, kenaikan sejumlah harga pangan yang dicatat FAO ini sudah berdampak pada komoditas dalam negeri. Dia menyebut, harga beberapa komoditas pangan sudah naik, di antaranya: kedelai dan daging sapi.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, pada Kamis (11/2) ini harga daging sapi mencapai Rp119.650/kg. Angka ini naik tipis 0,2 persen dibanding bulan sebelumnya (mtm).

Kenaikan harga kedelai ini sempat memicu pemogokan produsen tempe dan tahu pada awal tahun. Hal itu juga tercermin data inflasi pada Januari lalu. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang andil inflasi terbesar mencapai 0,21 persen. Inflasi kelompok ini disumbang tahu-tempe, daging, dan telor.

Rusli berkata, kenaikan harga kedelai di pasar global ini ditengarai karena kenaikan permintaan dari Cina yang pada gilirannya berdampak pada pengiriman ke Indonesia. Sedangkan, harga daging sapi naik akibat kebijakan restocking daging yang mayoritas berasal dari Australia.

Berlanjut sampai Idulfitri 2021

Rusli menambahkan, beberapa komoditas pangan, seperti: bawang putih, susu, gandum, gula, dan kedelai memang rentan terhadap harga di pasar internasional. Di samping itu, dia memperkirakan, kenaikan harga pangan juga akan terjadi terutama pada Ramadhan dan Idulfitri tahun ini.

Karena itu, dia berpendapat, selain mengamankan pasokan dalam jangka pendek, pemerintah juga perlu memikirkan strategi jangka panjang, yakni meningkatkan produksi terutama komoditas yang masih bergantung pada impor.

Ekonom Center of Reforms on Economics (Core), Yusuf Rendy Manilet menambahkan, harga pangan dunia yang naik sebenarnya bukanlah produk impor yang banyak dibutuhkan Indonesia. Tapi, kata dia, pemerintah perlu memperhatikan secara khusus gula karena pemerintah berencana mengimpor komoditas tersebut.

“Yang tidak kalah penting sebenarnya adalah FAO mengingatkan bahwa di tahun ini ada potensi produk pertanian terpengaruh dari kondisi iklim la nina yang diproyeksikan akan terjadi di tahun ini. Artinya pemerintah perlu mempersiapakan hal ini,” kata Yusuf kepada Lokadata.id.

Yusuf berpendapat, persiapan dari sisi teknis misalnya, Kementerian Pertanian perlu melakukan sosialisasi terkait dampak iklim tersebut. Kementerian Perdagangan juga harus secara cermat memantau dari segi kesiapan stok dalam negeri, dan jika kurang sudah memiliki rencana untuk melakukan impor.

Kesiapan pemerintah

Dikonfirmasi soal ini, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian. Agung Hendriadi menyebut, lonjakan harga pangan dunia yang berdampak ke pasar dalam negeri belum terjadi lantaran stok masih mencukupi. Beberapa harga pangan yang masih “anteng”, menurut dia, adalah gula dan kedelai.

“Kami pasti juga selalu melihat stok. Selama kami punya stok yang cukup, harga di sini nggak akan berpengaruh karena kita juga banyak memproduksi pangan kita sendiri. Kecuali memang kedelai dan daging, sebagian masih impor,” kata Agung kepada Lokadata.id.

Agung berkata, pemerintah juga sudah mengantisipasi kenaikan sejumlah harga pangan pada Ramadhan dan Idulftri tahun ini. Pemerintah memproyeksikan kenaikan harga beberapa pangan di kisaran 10 persen dan hal ini terhitung wajar.

Supply-nya sudah kami antisipasi, baik yang diproduksi di dalam negeri maupun yang masih memerlukan impor. Tahun lalu, kita nggak ada masalah, aman-aman saja. Mudah-mudahan, tahun ini bisa tetap aman seperti itu,” katanya.

Lokadata.id juga berupaya menghubungi Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Syailendra, untuk menanyakan perihal perhatian pemerintah terhadap lonjakan harga pangan dunia. Akan tetapi, Syailendra belum menjawab pertanyaan tertulis hingga telepon dari redaksi hingga berita ini ditulis.

Namun, kepada Bisnis.comSyailendra sempat mengatakan, pemerintah akan memantau perkembangan harga pangan dunia sekaligus ketersediaannya. Pemerintah tengah intens berkoordinasi dengan asosiasi produsen dan importir pangan mengenai ketersediaan pasokan terutama di hari besar keagamaan.

“Berbagai upaya tentu disiapkan agar inflasi tidak terlalu tinggi, yang utama adalah ketersediaan stok. Harus memadai khususnya jelang hari besar keagamaan yang tiba kurang lebih 100 hari lagi,” kata Syailendra, Selasa (12/1).

Sumber : https://lokadata.id/artikel/harga-pangan-dunia-tertinggi-sejak-2014-indonesia-perlu-waspada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s