Pertumbuhan Autopilot 5%

Ekonomi Indonesia bisa tumbuh pada kisaran 5% pada tahun ini dengan kondisi autopilot. Kondisi tersebut adalah belanja pemerintah berjalan, minimal tidak berkurang, serta konsumsi rumah tangga yang terjaga. Kondisi tersebut didukung oleh ekspor dan investasi yang tidak tumbuh signifikan. Apabila menghendaki pertumbuhan di angka 6%, maka hal yang perlu di dorong adalah ekspor dan investasi.


Kenapa ekspor? Bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, ekspor Indonesia memiliki peran penting. Pada 2011, ketika ekonomi Indonesia mampu menikmati pertumbuhan 6%, ekspor kita tumbuh 14,89% untuk ekspor barang dan 13,54% untuk ekspor jasa. Di sisi lain, pertumbuhan investasinya mencapai 8,86%.
Ketika pertumbuhan ekonomi sebesar 5,02% di tahun 2016, ekspor kita jeblok. Pada tahun kedua pemerintahan Jokowi-JK tersebut, pertumbuhan ekspor Indonesia terjun bebas ke angka -2,63% untuk ekspor barang dan 6,33% untuk ekspor jasa. Pun dengan pertumbuhan investasi hanya tumbuh 4,48%. Perihal memburuknya perekonomian global dituding menjadi sebab kenapa ekspor Indonesia terjun bebas.
Pada dua kondisi yang berbeda tersebut di atas, pertumbuhan konsumsi rumah tangga tetap bertengger di sekitaran angka 5%. Pada 2011, ketika ekonomi tumbuh 6,17%, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,05%. Sementara itu, pada tahun 2016 ketika ekonomi tumbuh 5,02%, konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,01%.
Sementara itu, konsumsi Pemerintah di tahun 2011 tumbuh sebesar 5,52%, sedangkan di tahun 2016, tumbuh -0,15%. Hal ini dipicu oleh shortfall penerimaan perpajakan yang berimplikasi pada pemangkasan belanja Pemerintah di tahun anggaran 2016. Apabila konsumsi Pemerintah bisa tumbuh 5,52% seperti tahun 2011 atau minimal 5,32% seperti tahun sebelumnya (2015), pertumbuhan ekonomi 2016 bisa di atas 5,1%. Namun apa daya, kas pemerintah kering.
Agar pertumbuhan tidak terpaku pada angka 5%, maka pemerintah harus menumbuhkan ekspor Indonesia serta menarik investasi yang masuk ke Indonesia. Namun demikian memulihkan ekspor Indonesia di tengah barang ekspor berupa komoditas mentah sangat lah sulit. Kondisinya mungkin akan berbeda apabila barang ekspor Indonesia bukan komoditas, namun barang jadi atau setengah jadi. Ekspor barang jadi atau setengah jadi bisa segara dicari pasar penggantinya semisal Afrika. Jadi opsi untuk meningkatkan ekspor bakal menemui rintangan yang berat.
Opsi berikutnya adalah menarik investasi besar-besaran di Indonesia. Investasi yang dimaksud adalah investasi langsung -foreign direct investment-. Ikhtiar Pemerintah untuk menaikkan peringkat kemudahan berbisnis, EoDB (ease of doing business), yang pada 2016 berada pada peringkat 91 semoga berbuah hasil di 2017 dan 2018. Namun, itu semua harus terjaga dengan tidak membiarkan instabilitas politik dalam negeri berlarut-larut dan bisa memengaruhi persepsi investor di Indonesia.
Tantangan berikutnya, menjaga konsumsi rumah tangga agar bisa tumbuh di angka 5%. Namun hal ini akan sulit mengingat TDL 2017 sudah merangkak naik yang berujung pada gerusan daya konsumsi rumah tangga. Terakhir, menjaga level konsumsi pemerintah. Perluasan data base pajak bisa menjadi alat Pemerintah untuk menambah pendapatan yang berujung pada peningkatan belanja pemerintah.

*) Perna dimuat di Rubrik View Koran Neraca, 7 Juni 2017, Harian Ekonomi Neraca

Author: rabdulah

Peneliti INDEF

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s